LOBSTER INDONESIA, VIETNAM DAN PERTANYAAN TENTANG SIAPA YANG SEBENARNYA DIUNTUNGKAN
LOBSTER INDONESIA, VIETNAM DAN PERTANYAAN TENTANG SIAPA YANG SEBENARNYA DIUNTUNGKAN
LOBSTER INDONESIA, VIETNAM DAN PERTANYAAN TENTANG SIAPA YANG SEBENARNYA DIUNTUNGKAN Mengapa Indonesia menjual bayi lobster, sementara Vietnam membesarkannya menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi ? Ini cerita tentang salah satu makanan laut paling eksklusif dan paling mahal di dunia. Yaaa, tebakan Anda tidak salah, lobster, lebih tepatnya Indonesian Spiny Lobster ( Panulirus spp. ).
Pernah dengar dahulu tentang legalisasi transaksi jual beli baby lobster di Indonesia ?
Kebijakan ini terjadi pada era Presiden Joko Widodo, tepatnya pada masa jabatan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo ( 2019 – 2020 ). Pada 4 Mei 2020, Edhy Prabowo menandatangani Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan ( Permen KP ) Nomor 12 Tahun 2020 yang kembali membuka peluang ekspor benih bening lobster ( BBL ) atau yang lebih dikenal sebagai baby lobster, dengan sejumlah persyaratan.
Sebelumnya, pada era Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ( 2014 – 2019 ), ekspor benih lobster dibatasi melalui Permen KP Nomor 1 Tahun 2015 dan kemudian Permen KP Nomor 56 Tahun 2016. Kebijakan pembukaan kembali ekspor ini sangat ditentang oleh Ibu Susi Pudjiastuti, yang selain pernah menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, juga merupakan salah satu pelaku bisnis di industri seafood Indonesia. Pertanyaannya sederhana, kenapa dijual bayinya, bukan yang dewasanya ?
Dalam percakapan saya dengan Daniel Tibbits, CEO dari Pearl Seafoods Export Pty Ltd, lobster merupakan hewan laut yang sulit untuk dipelihara ( hard to maintain ). Menurut beliau, secara survival rate, angkanya kurang lebih berada di 40 %. Dari 500 baby lobster yang dibudidayakan, hanya sekitar 200 yang bisa tumbuh sampai dewasa dan memiliki kondisi cukup baik untuk dijual, khususnya dalam kategori ekspor ( export grade ).
Lalu secara pakan, konversinya juga jelek menurut beliau. Untuk menghasilkan 1 kg lobster, dibutuhkan sekitar 25 kg pakan seafood basah. Angka ini merupakan gambaran dari pengalaman dan penjelasan beliau, bukan angka baku untuk seluruh spesies maupun sistem budidaya lobster. Jadi, mungkin secara matematika bisnis, lebih masuk akal untuk menjualnya sa'at masih bayi dibandingkan membesarkannya dan berjudi dengan risiko kematian, biaya pakan, serta waktu pemeliharaan. Yaaa, meskipun harusnya secara hitung - hitungan dewa judi, high risk, high return. Namun, menjual lobster sa'at masih bayi juga berarti melepas kesempatan untuk mendapatkan nilai tambah yang jauh lebih besar ketika lobster tersebut mencapai ukuran konsumsi.
Lantas, siapa yang paling diuntungkan dari transaksi jual beli baby lobster ini ?