" DARI EVEREST KE KOSTRAD "
*PAM PAM PAM* Ada hal lain yang khas dari Iwan : suaranya. Di kalangan prajurit, ia dikenal piawai menghidupkan suasana dan membakar semangat pasukan melalui yel - yel. Bahkan setiap kali saya meneleponnya, sering kali bukan kata “ halo ” yang terdengar lebih dahulu. Yang muncul justru suara lantang : “ Komando Hantu Rimba, Prajurit Sapta Marga… Pam… Pam… Pam… Merah Putih… ! ” Itulah Iwan.
Ramai, spontan, kocak, dengan aksen Sunda yang kental. Namun ketika masuk urusan tugas, ia berubah menjadi prajurit serius. Dalam falsafah Sunda dikenal ajaran " Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh " : saling menajamkan kemampuan, memelihara rasa kemanusiaan dan saling membimbing. Dalam kepemimpinan militer, maknanya relevan. Prajurit tidak hanya dituntut kuat, tetapi juga diasah kemampuannya, dipelihara soliditasnya dan dibimbing agar tumbuh sebagai manusia sekaligus prajurit yang lebih baik. Mungkin karena itu, di balik suaranya yang keras terdapat keluwesan khas urang Sunda : bisa bercanda tanpa kehilangan wibawa, dekat dengan anak buah tanpa menghilangkan garis komando.
Sifat - sifat itu mewarnai perjalanan kariernya. Iwan bergerak dari satu medan pengabdian ke medan lainnya. Lingkungan Kopassus, lembaga pendidikan, brigade, Rindam, Korem, hingga Papua pernah dilaluinya. Ia menjadi Danjen Kopassus pada 2022, kemudian Pangdam XII/Tanjungpura sejak April 2023 dan pada akhir 2024 dipercaya menjadi Danpussenif. Sebagian besar perjalanannya berada di jalur komando dan pembinaan prajurit. Di antara rangkaian penugasan itu, ada satu nama yang membuat hubungan saya dengan Iwan tidak pernah benar - benar terputus : LETJEN TNI DONI MONARDO.
Pada 2012, Iwan terlibat dalam Ekspedisi Khatulistiwa di Kalimantan di bawah komando Doni, yang ketika itu menjabat Wadanjen Kopassus. Ekspedisi tersebut bukan semata perjalanan militer. Di dalamnya ada penelitian kehutanan, flora - fauna, geologi, sosial budaya dan komunikasi sosial - pendekatan yang mempertemukan ketangguhan prajurit dengan pengetahuan tentang alam dan masyarakat. Kelak keduanya kembali bertemu dalam garis komando ketika Iwan menjadi Danpusdikpassus di Batu Jajar Jawa Barat dan Doni menjabat Danjen Kopassus.
Pada Januari 2019 Doni menjadi Kepala BNPB. Saya mendampinginya sebagai Tenaga Ahli Kepala BNPB, sementara Iwan baru usai mengikuti Lemhanas. Iwan beberapa kali bersilaturahim ke Doni di kantor BNPB. Selanjutnya Iwan menjabat Danrem 173/Praja Vira Braja. Di Biak kami nyaris bertemu. Saya datang dalam tugas Satgas Covid-19 BNPB, sementara Iwan sedang masuk hutan bersama pasukannya dalam tugas operasi. Seperti dua jalur pendakian di gunung yang sama, kami belum menemukan titik pertemuan. Sebelumnya kami sudah janjian untuk kuliner bersama di Biak.
Ada cerita yang barangkali tidak banyak diketahui orang. Doni pernah ingin menarik Iwan ke BNPB untuk memimpin pusat pendidikan dan latihan. Pikiran Doni sederhana : bencana tidak boleh ditangani oleh orang yang tidak terlatih. Ia menginginkan kultur pendidikan, disiplin, kesiapsiagaan dan profesionalisme yang kuat di lingkungan BNPB. Nama Iwan termasuk yang ada dalam pikirannya. Namun aturan penempatan perwira aktif di lembaga sipil ketika itu membuat gagasan tersebut tidak terwujud.