RAKRYAN SANCANG : KEBENARAN YANG DISEMBUNYIKAN
RAKRYAN SANCANG : KEBENARAN YANG DISEMBUNYIKAN
OPINI CJI – FRONTAL Rakryan Sancang : Siapa Sebenarnya yang Menghapus Sejarah Nusantara ? Oleh: Zaki CJI Terus terang saja. Masalahnya bukan pada kisah Rakryan Sancang. Masalahnya ada pada cara kita memandang sejarah. Setiap kali ada cerita leluhur yang tidak masuk buku akademik, langsung divonis : “ mitos ”, “ tidak ilmiah ”, “ tidak valid ”. Pertanyaannya : sejak kapan kebenaran sejarah hanya milik kampus ? Lihat garis waktunya — jelas, konkret, tidak ngawang - ngawang : 561 M : Prabu Kertawarman naik tahta ( Kerajaan Tarumanagara ) 571 M : Nabi Muhammad SAW lahir ( 12 Robi'ul Awwal ) 591 M : Rakryan Sancang lahir ( wilayah Sancang, Pameungpeuk Garut Selatan ) 601 M : Ali bin Abi Tholib lahir Rentangnya dekat. Secara waktu, tidak mustahil terjadi interaksi lintas peradaban. Sangat logis. Tapi kenapa langsung ditolak ? Karena tidak ada di arsip ? Atau karena tidak sesuai dengan narasi sejarah yang selama ini diajarkan ? Jangan lupa — sejarah yang kita pelajari hari ini banyak disaring oleh sudut pandang luar. Sementara cerita lokal, seperti yang hidup di Leuweung Sancang, dianggap tidak penting. Ini bukan sekadar soal benar atau salah. Ini soal siapa yang berhak menentukan kebenaran. Kalau semua harus menunggu bukti tertulis, maka sebagian besar sejarah Nusantara akan dianggap tidak pernah ada. Dan itu berbahaya ! Bahkan sangat berbahaya ! Karena pelan - pelan, kita diajarkan untuk meragukan cerita sendiri… lalu menggantinya dengan versi yang “ diakui ”. Padahal, bangsa besar bukan hanya yang punya arsip, tapi yang percaya pada akar sejarahnya sendiri. Penting ! Untuk menghancurkan kebesaran dan keluhuran budaya suatu bangsa, maka errorkan dan hancurkan sejarahnya. Rakryan Sancang mungkin tidak tercatat di jurnal internasional. Tapi ia hidup dalam ingatan masyarakat. Dan kadang… yang hidup lebih jujur daripada yang ditulis. Jadi sekarang pilih : percaya sepenuhnya pada buku, atau mulai berani membaca sejarah dari sudut pandang sendiri ? Ini bukan soal legenda. Ini soal keberanian melawan dominasi narasi. Setuju ? Lawan argumen ini. Tidak setuju ? Buktikan dengan data — bukan sekadar opini.
Bandung, Minggu, 3 Mei 2026
Muhammad Zaki Mubarrok
CEO CJI
Citizen Journalism Interdependen