JEJAK TAPAK " RHB " KOTA BANDUNG
JEJAK TAPAK " RHB " KOTA BANDUNG
RBM BANDUNG BERTRANSFORMASI : WARGA DI GARIS DEPAN INKLUSI By Kang Farhan Helmy Presiden DILANS Kemarin pagi hingga siang, kami berdiskusi di Kantor DILANS bersama Tim RBM ( Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat ) Kota Bandung. Bukan sekadar rapat koordinasi, tetapi ruang untuk merumuskan arah baru dan gagasan untuk memobilisasi sumberdaya masyarakat yang tercecer. Di sebuah ruang kecil, kami membicarakan perubahan besar untuk Bandung di tengah krisis multi-dimensi yang tak gampang dilalui. Harapannya inklusi tidak hanya berhenti di kebijakan, tetapi benar - benar hidup di tingkat komunitas dan warga. RBM Bandung, sebagai forum lintas sektor yang melibatkan pemerintah, masyarakat dan organisasi disabilitas, kini bergerak menuju pendekatan yang lebih partisipatif. Dari yang sebelumnya cenderung _top-down_, menjadi model yang menempatkan warga sebagai aktor utama, hingga ke tingkat RW. Dengan struktur Kota Bandung yang mencakup 30 kecamatan, 151 kelurahan, 1.591 RW dan 9.904 RT, pendekatan berbasis komunitas bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan. Persoalan masih segudang. Penyelesaian sistemik dan organik dibutuhkan. Komitmen Pemkot sudah terlihat : dukungan dana prakarsa RW dan pendataan melalui LACI ( Layanan Catatan Informasi ) RW. Fondasi kelembagaan penting yang bisa mengukur apa yang terlihat dan tidak terlihat di tingkat tapak. Ini membuka peluang besar untuk memperkuat berbagai inisiatif : _community engagement_, keuangan inklusif, pencegahan korupsi, pemetaan spasial, pengelolaan risiko bencana, UMKM produktif, hingga advokasi kesetaraan gender, disabilitas dan inklusi sosial ( GEDSI ). Rehabilitasi diberi pemaknaan baru, mobilisasi potensi warga secara masif. Semua terhubung dalam satu visi : mewujudkan Bandung sebagai kota yang inklusif dan bebas diskriminasi. Inklusi bukan hanya tentang siapa yang diakomodasi, tetapi siapa yang dilibatkan. Dan hari ini, jawabannya semakin jelas : warga di garis terdepan. #RBMBandung #DILANSIndonesia #Inklusi #GEDSI #KotaInklusif #Bandung #CommunityEngagement #DisabilityInclusion #NoOneLeftBehind 🙏 https://www.facebook.com/share/p/1BAaUPJD8t/
Setelah acara selesai dalam nuansa nyantai sa'at kami makan mie goreng bersama, terjadi perbincangan hangat dan ringan, namun bermakna. Ada sebuah pertanyaan besar sebelum kamu bubar : Apakah Urang/Suku/Bangsa Sunda punya CANDI ? Kalau ada dimana dan apa nama Candinya ?
Jawabannya tentu saja ada : Namanya CANDI JIWA yang berada di area Situs BATUJAYA Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat. Di bantaran SUNGAI CITARUM.
Note : CANDI JIWA mulai ditemukan dan digali pada tahun 1980 -an. Dua orang Arkeolog asal Eropa yang pertama menggali ( salah satunya dari Prancis ). Namun setriliun sayang lebih dari 60 % Artefak dan Manuskrip Utama dan sangat penting dirampok oleh mereka ke Eropa, dimana sampai sa'at ini tidak bisa kembali lagi. Pada tahun 1984 penggalian dan perawatan dilanjutkan oleh para Arekeolog lokal asal Universitas Indonesia. Tokoh sentralnya bernama Mang Hassan Djafar alias Prof. Dr. Hassan Djafar ( almarhum ).