*DUNIA LUMPUH. SA'ATNYA 3500 KOTA ASIA - AFRIKA MEMIMPIN*
*DUNIA LUMPUH. SA'ATNTA 3500 KOTA ASIA - AFRIKA MEMIMPIN* > Ketika negara gagal, kota harus menyelamatkan kemanusiaan Jum'at lalu, saya bersama Ustadz Zaki memandu dialog radio di DILANS Voices – Inclusion on Air dengan topik hangat tentang perang yang memicu berbagai krisis global. Dari pengamatan kami, tampaknya tidak ada satu pun otoritas multilateral yang benar - benar mampu mengendalikan situasi sa'at ini. Yang kita butuhkan bukanlah otoritas tunggal dunia sebagaimana dibayangkan oleh Thomas Hobbes melalui gagasan Leviathan -nya. Yang lebih mendesak adalah tata kelola global yang memungkinkan upaya kolektif dalam mengelola kepentingan bersama, sekaligus tetap membuka ruang bagi ekspresi kepentingan yang adil, termasuk bagi negara - negara berkembang. Realitas hari ini menunjukkan ketiadaan terobosan diplomatik yang berarti. Negara - negara terjebak dalam kepentingan blok masing - masing, dengan berbagai justifikasi. Di sisi lain, nilai kemanusiaan seolah mengalami normalisasi yang berbahaya : nyawa manusia direduksi menjadi angka statistik, pengorbanan yang dibenarkan atas nama kepentingan negara. Lalu, apakah masih ada jalan keluar ? Dalam berbagai kesempatan, saya menyampaikan bahwa semangat Konferensi Asia Afrika ( KAA ) dapat kembali menjadi penunjuk arah ( _beacon_ ) bagi kebangkitan gerakan non - blok yang lebih relevan dengan tantangan zaman. Pada tahun 1955, para pemimpin dari 29 negara berkumpul di Bandung, membawa semangat solidaritas dan kedaulatan di tengah dunia yang terpolarisasi. Hari ini, kawasan Asia - Afrika telah berkembang menjadi rumah bagi sekitar 4,5 miliar manusia, lebih dari 55 % populasi dunia, yang tersebar di lebih dari 3.500 kota dengan populasi di atas 100 ribu jiwa. Di antaranya, sekitar 1,3 miliar adalah penyandang disabilitas dan lansia ( DILANS ). Ini adalah modalitas yang luar biasa, namun belum sepenuhnya dioptimalkan sebagai kekuatan penggerak perubahan dan diplomasi global. Bayangkan jika 3.500 wali kota di Asia - Afrika tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi membentuk Aliansi Kota Asia - Afrika untuk Keadilan Inklusif dan Perdamaian yang sebenarnya, sebuah platform kolaboratif lintas kota yang bekerja melampaui batas negara. Aliansi ini dapat menjadi ruang koordinasi nyata untuk merespons krisis kemanusiaan secara cepat dan berbasis komunitas, mendorong diplomasi kota ( city diplomacy ) di tengah stagnasi diplomasi negara, serta mengintegrasikan agenda _Gender Equality, Disability, and Social Inclusion_ ( GEDSI ) dengan aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan. Di sinilah letak kekuatan sebenarnya: bukan semata pada negara, tetapi pada kota sebagai ruang hidup manusia. Tanpa integrasi GEDSI, Asia - Afrika berisiko mengulang pola eksklusi dalam wajah yang berbeda. Penyandang disabilitas, lansia, perempuan dan kelompok rentan lainnya bukan sekadar penerima manfa'at, mereka adalah aktor kunci dalam membangun ketahanan sosial, ekonomi dan ekologis. Masa depan Asia - Afrika tidak hanya ditentukan oleh kekuatan geopolitik, tetapi oleh sejauh mana ia mampu menjadi inklusif. Sudah sa'atnya kita melangkah lebih berani. Mengapa tidak menjadikan Bandung sebagai simpul utama ? Bukan sekadar simbol, tetapi sebagai pusat koordinasi nyata bagi gerakan Asia - Afrika abad ke- 21 ? Jejak sejarah Konferensi Asia Afrika ( KAA ), ekosistem masyarakat sipil yang hidup, serta posisi strategis negara berkembang ( _Global South_ ), Bandung memiliki legitimasi moral sekaligus potensi operasional untuk memainkan peran ini. Sementara itu, krisis legitimasi Perserikatan Bangsa - Bangsa semakin terasa, terutama di tengah menguatnya arus anti - multilateralisme global. Dunia membutuhkan pusat gravitasi baru yang lebih dekat dengan realitas masyarakat, lebih inklusif dan lebih berani secara moral. Tahun 2026 menandai 71 tahun Asia - Afrika. Momentum ini tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan . Ini adalah panggilan sejarah ! Bagi para duta besar, wali kota, masyarakat sipil, akademisi dan warga : sa'atnya melampaui peringatan dan mulai membangun. Bukan sekadar mengenang solidaritas, tetapi mengorganisasikannya kembali. Bukan sekadar berbicara tentang kemanusiaan, tetapi menginstitusikannya dalam tindakan kolektif. Karena hari ini, peradaban dan kemanusiaan tidak hanya sedang diuji, tetapi sedang menunggu siapa yang berani memimpin. #inclusiveAsiaAfrica #KAA71 #ecosocrights https://www.facebook.com/share/p/1Gpu7TCAen/