PULANG MERAWAT KEPERCAYAAN
PULANG MERAWAT KEPERCAYAAN
_Membaca Jejak Letjen TNI Kristomei Sianturi, Kepala BNPB_
*PULANG MERAWAT KEPERCAYAAN*
*Catatan Egy Massadiah*
Ada jarak yang justru mempererat persahabatan. Dalam ingatan tentang pandemi COVID-19, jarak itu berukuran sederhana : sekitar satu meter. Begitulah kami Sholat Jum'at di lantai 15 Graha BNPB pada 2020. Begitu pula ketika makan bersama. Tubuh dijauhkan, tetapi percakapan dan pekerjaan tetap mempertemukan. Pada masa itu, kepedulian mengambil bentuk yang tidak biasa : menahan diri untuk berdekatan agar dapat saling melindungi. Menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker. Di antara wajah - wajah dalam ingatan tersebut ada nama Kolonel Kristomei Sianturi.
Pada Kamis, 15 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantiknya menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana di Istana Negara. Pelantikan itu didahului kenaikan pangkatnya dari " Mayor Jenderal " menjadi " Letnan Jenderal ". Kolonel yang dahulu bekerja bersama kami kini menerima amanah memimpin lembaga tersebut. Ini semacam kepulangan. Namun, kepulangan seorang pemimpin tidak cukup diisi dengan mengenang. Ada rumah besar BNPB yang harus ditata, kepercayaan yang perlu dirawat dan masyarakat yang menunggu pertolongan.
Perkenalan dengan Kristomei bermula pada awal 2020, ketika saya bertugas sebagai " Tenaga Ahli " Kepala BNPB, almarhum Letjen TNI Doni Monardo, sekaligus terlibat dalam penanganan COVID-19. Yang teringat, Kristomei masih berpangkat kolonel, baru menyelesaikan pendidikan Sesko TNI, lalu ditarik Pak Doni untuk membantu " Bidang Komunikasi Publik Penanganan Pandemi ". Sebagai Jurnalis saya berada di pusaran bidang itu. Pertemuan kami banyak berlangsung di lantai 10, di ruang kerja Pak Doni. Setiap hari ada rapat kecil sebelum perkembangan penanganan COVID-19 disampaikan kepada masyarakat. Dalam lingkar kerja itu ada Tommy Suryopratomo, " Senior Jurnalis " yang kemudian dilantik menjadi Duta Besar RI untuk Singapura pada September 2020. Ada Profesor drh Wiku Adisasmito, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas yang kemudian menjadi " Juru Bicara Satgas ", serta almarhum Brigjen Purn dr. Achmad Yurianto, " Juru Bicara Pemerintah " pada masa awal pandemi.
Arahan Pak Doni menjadi pegangan dalam pekerjaan sehari - hari. Di tengah kecemasan masyarakat, informasi tidak boleh berhenti sebagai deretan angka. Di belakangnya ada manusia : keluarga yang menunggu kabar, tenaga kesehatan yang bekerja dan warga yang membutuhkan petunjuk serta kejelasan informasi. Sebuah kalimat dapat menjadi pegangan. Kalimat yang lain, bila disampaikan tanpa kehati - hatian, justru dapat menambah kebingungan.