RIZAL UL FIKRI : “ THE FIRST MAN OF CJI ”
RIZAL UL FIKRI : “ THE FIRST MAN OF CJI ”
*RIZAL UL FIKRI : “ THE FIRST MAN OF CJI ”* *Tembus 100 Artikel di Web CJI dan Pelopor Kebon WAKAF Abadi* By Zaki CJI Di setiap organisasi selalu ada sosok perintis. Bukan selalu yang paling banyak bicara, bukan pula yang paling sering tampil di depan kamera. Namun ketika sejarah ditulis, namanya selalu muncul di halaman pertama. Di lingkungan Citizen Journalism Interdependen ( CJI ), sosok itu adalah Rizal UL Fikri. Ia layak disebut sebagai “ *The First Man of CJI* ”, karena menjadi salah satu motor penggerak yang membuktikan bahwa anggota CJI bukan hanya mampu berbicara, tetapi juga mampu menghasilkan karya nyata yang dapat dibaca dan diwariskan.
*Menembus 100 Artikel* Dalam dunia jurnalistik warga, menulis satu artikel mungkin mudah. Menulis sepuluh artikel membutuhkan komitmen. Namun menembus 100 artikel yang terbit di web CJI adalah perkara yang berbeda. Pencapaian tersebut menunjukkan tiga hal penting : 1. *Konsistensi* Menulis bukan pekerjaan sekali jadi. Dibutuhkan disiplin untuk terus mengamati, mewawancarai, meneliti, lalu menuangkannya menjadi tulisan yang layak dibaca. 2. *Ketahanan Mental* Tidak semua tulisan langsung sempurna. Ada yang harus direvisi, diperbaiki, bahkan ditulis ulang. Namun Rizal terus melangkah hingga mencapai angka seratus. 3. *Komitmen terhadap Literasi* Di tengah budaya " _scroll_ " dan " _swipe_ ", ia memilih untuk menulis, mendokumentasikan dan meninggalkan jejak pengetahuan. Bagi CJI, 100 artikel bukan sekadar angka. Itu adalah 100 jejak pemikiran, 100 catatan sejarah dan 100 kontribusi bagi masyarakat.
*Pelopor Kebon WAKAF Abadi* Jika pencapaian menulis menunjukkan kekuatan intelektual, maka gagasan " Kebon WAKAF Abadi " menunjukkan kekuatan visi " spiritual " jangka panjang. Konsep wakaf produktif yang dikelola secara berkelanjutan telah lama menjadi perhatian banyak lembaga wakaf di Indonesia. Prinsip dasarnya sederhana: aset pokok dijaga, sementara hasil pengelolaannya dimanfa'atkan untuk kemaslahatan umat. Konsep dana dan aset wakaf yang terus menghasilkan manfa'at juga menjadi salah satu fokus pengembangan wakaf modern di Indonesia. Melalui gagasan Kebon WAKAF Abadi, Rizal Ul Fikri mencoba menerjemahkan semangat tersebut ke dalam bentuk yang lebih nyata dan dekat dengan masyarakat. Bayangannya sederhana namun besar : * Menanam hari ini. * Memanen bertahun - tahun kemudian. * Hasilnya dinikmati masyarakat. * Aset pokoknya tetap terjaga. Filosofinya mirip dengan Kebun Wakaf yang terus hidup lintas generasi : pohonnya tumbuh, hasilnya dipetik, tetapi kebunnya tetap ada untuk generasi berikutnya.
*Menyatukan Pena dan Cangkul* Banyak orang mampu menulis. Banyak orang mampu bertani. Namun tidak banyak yang mampu menggabungkan keduanya. Rizal Ul Fikri berusaha mempertemukan : Pena untuk membangun kesadaran. dan Cangkul untuk membangun kemandirian. Melalui artikel - artikelnya, ia menyebarkan gagasan. Melalui Kebon WAKAF Abadi, ia berupaya menghadirkan solusi nyata.